
Kabupaten Sragen diguncang kisah memilukan saat ternyata 365 siswa dan guru dari puluhan sekolah dan satu pondok pesantren harus menjalani perawatan setelah mengonsumsi hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (11/8/2025).
Dari jumlah tersebut, sedikitnya 8 siswa pernah masuk kondisi kritis di rumah sakit akibat gejala keracunan—menuntut perhatian serius dari semua pihak.
Hingga Kamis (14/8/2025), data baru menunjukkan bahwa angka korban telah naik dari sebelumnya 251 menjadi 365 orang.
Komisi IV DPRD Sragen pun bergerak cepat dan memanggil pihak penyelenggara dapur SPPG Mitra Mandiri Gemolong, instansi Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan untuk klarifikasi dan audit atas berbagai aspek: mulai dari sumber bahan baku, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
Dalam pertemuan tersebut dikemukakan bahwa penyebab dugaan keracunan bisa terkait dengan kondisi makanan yang lama matang, dingin atau salah pengelolaan — namun hasil laboratorium yang akan mengungkap secara spesifik zat penyebab masih dalam pengujian.
Insiden ini menimbulkan keraguan di kalangan orang tua dan masyarakat: bagaimana program yang ditujukan untuk meningkatkan gizi anak justru berakhir dalam tragedi kesehatan massal. Kini, selain pemulihan korban, fokus utama beralih ke peninjauan proses dan pengawasan agar kejadian serupa tak terulang.
Pihak sekolah, orang tua dan penyelenggara harus bersama-sama memastikan bahwa makanan yang disajikan bukan hanya memenuhi kuantitas, tetapi jauh lebih penting: memenuhi keamanan pangan dan standar pengolahan yang layak.
Di tengah upaya menyelematkan anak-anak, Sragen diingatkan bahwa sebuah program berniat baik bisa melewati ambang kritis bila prosesnya terabaikan.