
Di Sragen, sebuah rumah besar yang dulu menjadi tempat berteduh, kini hanya menyisakan puing bata dan serpihan kayu. Di antara gumpalan debu yang terbang tertiup angin sore, ada kisah hati seorang lelaki yang retak — retak bukan karena terpaan waktu, melainkan karena rasa percaya yang tiba-tiba runtuh tanpa peringatan.
Warseno, seorang pria berusia 36 tahun, tak pernah membayangkan rumah yang ia bangun lewat kerja keras bertahun-tahun itu justru menjadi tempat di mana hatinya paling terluka. Rumah itu ia bangun bersama istrinya setelah pernikahan hampir 18 tahun. Bukan rumah mewah, tetapi cukup untuk menjadi tempat pulang, tempat tumbuh, tempat mereka menyusun masa depan.
Namun, suatu hari, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya.
Dengan suara yang lirih namun tegas, Warseno bercerita bahwa ia mulai curiga saat sikap istrinya berubah. Ia kemudian memutuskan memasang kamera CCTV di rumah. Dari rekaman itulah, menurut pengakuan Warseno, ia melihat sesuatu yang ia yakini sebagai bukti perselingkuhan.
Saat itu, dunia Warseno seakan berhenti berputar.
Ia termenung berhari-hari. Terluka yang tak tampak, tapi terasa sampai ke napas. Kata-kata sulit keluar, tetapi batinnya memaksa ia mengambil keputusan — keputusan yang tidak semua orang mampu pahami.
Di tengah amarah dan rasa kehilangan yang menumpuk, Warseno menyewa sebuah alat berat — excavator. Dengan tangannya sendiri mengarahkan operator, ia merobohkan rumah yang ia bangun bersama orang yang dulu ia sebut tempat pulang.
Setiap hantaman besi ke dinding adalah gema dari kekecewaan yang tak terucap.
Warga sekitar berkerumun di pinggir jalan. Ada yang mencoba menegur, ada yang hanya bisa menggeleng pelan, ada pula yang menahan napas menyaksikan pemandangan dramatis itu. Rumah yang berdiri kokoh, kini rata dengan tanah hanya dalam waktu beberapa jam.
Bagi sebagian orang, tindakan Warseno mungkin terlihat nekat. Namun bagi Warseno, merobohkan rumah itu bukan hanya tentang menghancurkan bangunan — itu adalah cara terakhir untuk menghentikan ingatan yang menyakitkan.
Ia tahu tanah itu bukan miliknya. Ia tahu bangunan itu hasil jerih payah keluarganya. Tetapi ia juga tahu — ia tidak bisa lagi hidup dengan bayangan bahwa rumah tersebut menyimpan rahasia yang membuatnya runtuh dari dalam.
Di depan tumpukan puing yang kini membisu, Warseno berkata pelan:
“Kalau hatiku sudah hancur, apa gunanya rumah ini berdiri?”
Tak ada yang menjawab. Angin sore pun terasa lebih dingin dari biasanya.
Tetangga dan kerabat yang mengenalnya tahu, Warseno bukan orang yang mudah tersulut. Tapi pengkhianatan — benar atau salah sesuai dugaan — adalah luka yang sulit diukur kedalamannya. Ketika kepercayaan patah, tidak ada yang tersisa untuk dipertahankan.
Kini, setelah rumah itu rata tanah, cerita ini tidak hanya menjadi viral di media sosial, tetapi juga menjadi perbincangan tentang betapa rapuhnya hubungan manusia — tidak peduli seberapa kuat bangunan yang mereka dirikan bersama.
Yang tersisa dari kisah ini adalah pelajaran:
Rumah bukan sekadar dinding dan atap. Rumah adalah hati. Dan jika hati retak, bangunan sekuat apa pun dapat runtuh.