
Di alun-alun depan Kantor Pemerintah Kabupaten Sragen pada Jumat pagi yang tenang, berkumpul barisan yang tak biasa: ratusan petugas dari berbagai lembaga—Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sragen (BPBD Sragen), relawan komunitas, aparat TNI-Polri, hingga unsur pemerintahan daerah—mengenakan seragam, membawa peralatan, dan terlihat siap menghadapi badai yang bisa datang kapan saja.
Acara yang digelar adalah apel kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi tahun 2025-2026, namun yang menarik bukan hanya barisan dan pidato — yang paling menyentuh adalah simulasi penanganan darurat yang dipertontonkan di hadapan publik.
Simulasi itu terlihat realistis: petugas mengevakuasi warga yang terjebak di area terdampak angin kencang, mengevakuasi korban hipotetis tanah longsor, membentangkan tenda darurat dan jalur evakuasi cepat. Semua bergerak cepat, koordinasi terpadu, sorot lampu dan sirene menambah keseriusan adegan. Satu-dua relawan mengenakan pakaian licin dan berteriak memanggil “korban”, sehingga suasana menjadi dramatis sekaligus edukatif.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, tampil sebagai inspektur upacara. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa ancaman bencana tidak menunggu peringatan — khususnya di wilayah Sragen yang rawan banjir, angin kencang, dan longsor di musim pancaroba.
“Saat pancaroba, potensi cuaca ekstrem meningkat mulai dari hujan deras, angin kencang, hingga tanah longsor. Karena itu, kita harus selalu waspada dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan,” ujarnya.
Ia juga mengecek secara langsung kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan bencana — dari kendaraan operasional, alat komunikasi, sampai sistem peringatan dini yang dipasang di titik-titik rawan. Ia menyebut bahwa hingga saat ini telah terbentuk 41 desa tangguh bencana (Destana) dari total 208 desa/kelurahan di wilayahnya, dan jumlah itu akan terus ditingkatkan.
Yang membuat acara ini bukan sekadar upacara rutin adalah pesan bawah-permukaannya: bahwa kesiapsiagaan bukanlah barang mati. Ia hidup di tiap latihan, tiap langkah koordinasi, tiap tenda darurat yang didirikan dan setiap relawan yang bergerak cepat. Ketika simulasi selesai dan penonton mulai bubar, maka yang sesungguhnya diuji adalah suasana hati masyarakat: Apakah mereka merasa bagian dari kesiapsiagaan itu? Apakah ibu-ibu di rumah, petani di sawah, guru di sekolah, sudah tahu jalur aman ketika hujan lebat dan angin menerjang?
Ketua relawan Merona Rescue, Wawan Santoso, memberi catatan penting:
“Relawan adalah bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana daerah. Kami mengajak warga untuk menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan yang dapat menyumbat saluran air dan memicu banjir.”
Pesan itu menyentuh inti: mitigasi bencana bukan hanya tugas aparat — tetapi tugas bersama. Dari membuang sampah yang benar, memeriksa pipa air, memangkas pohon yang rawan tumbang, hingga ikut latihan evakuasi di lingkungan masing-masing. Semua itu kecil jika dilihat sendiri, tetapi besar bila dilakukan bersama.
Saat latar kota Sragen terlibat dalam simulasi penanggulangan, terlihat kecepatan berganti: komando, pergerakan cepat, evakuasi, stabilisasi korban. Namun di luar panggung, di desa-desa yang jauh dari sorotan, tantangannya masih sama besar. Dan itulah yang menjadi sorotan: bagaimana memastikan semua lapisan masyarakat—dari kota hingga desa terpencil—tidak hanya melihat “apil kesiapsiagaan”, tetapi merasa menjadi bagian dari solusi.
Acara simulasi ini bukanlah sekadar unjuk kebolehan perangkat pemerintah. Ia adalah lampu peringatan — bahwa alam tidak akan menunggu kita siap. Ia akan datang kapan pun, dan saat ia datang, yang akan menentukan adalah kesiapan kita bukan hanya sebagai institusi, tetapi sebagai komunitas. Karena ketika hujan mengguyur tanpa henti, atau angin tiba-tiba merobohkan pohon di atas rumah, — kesiapsiagaan yang nyata adalah yang tecermin dalam tindakan, bukan hanya seragam dan barisan.
Sragen kini menoreh satu langkah besar. Dan langkah berikutnya adalah memastikan bahwa tiap desa, tiap dusun, tiap rumah tangga tahu apa yang harus dilakukan ketika alarm bencana berbunyi. Karena kesiapsiagaan sejati bukanlah acara sekali lalu — melainkan gaya hidup yang siap menyambut kala alam berbicara.