Karnaval Warna & Tekad: Festival Festival Batik Pungsari 2025 Menegaskan ‘Sragen sebagai Pusat Batik Solo Raya

Sabtu pagi di lapangan Desa Pungsari, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, matahari mulai menyunggingkan sinarnya ketika ribuan orang berdatangan—warga desa, pengrajin batik, pengunjung dari luar daerah, hingga pejabat pemerintahan. Di antara keramaian itu, terhampar ragam motif batik penuh warna yang menandai bukan sekadar festival tetapi sebuah deklarasi: bahwa desa kecil ini mulai menuliskan sejarah baru.

Festival Batik Pungsari 2025 bukan hanya acara tahunan biasa. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa meski Sragen memiliki banyak pengrajin batik, nama dan eksistensi mereka belum mendapat sorotan layak. Sebagaimana dilaporkan, Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Bupati Sigit Pamungkas menyatakan bahwa “kalau orang bicara batik Solo Raya, maka pusatnya adalah Sragen.”

Latar & Kepedulian

Menurut Kepala Desa Pungsari, Suparmin, sekitar 50 % warga desa menggantungkan hidup dari industri batik rumahan. Namun, produksi yang berkualitas ini selama ini “tersembunyi” di balik label merek lain sehingga kurang mendapat pengakuan sebagai batik Pungsari. Dengan festival ini mereka ingin mengubah itu — memberi identitas kuat untuk batik Pungsari dan menempatkannya sebagai brand yang mandiri.

Gerak Festival

Di lapangan, festival disemarakkan dengan aneka kegiatan: karnaval batik—yang melihat barisan warga mengenakan kain batik bercorak lokal melintas di jalan desa; bazar UMKM batik dan kuliner; workshop membatik untuk generasi muda; lomba konten TikTok dan lomba menyanyi; dan momen business-matching antara pelaku usaha batik dengan mitra potensial.
Setiap sudut mengingatkan bahwa batik bukan hanya warisan budaya tapi juga peluang ekonomi—rumah-rumah produksi, mesin cetak batik, pewarna organik, hingga pengemasan dan pengiriman: semuanya bergerak.

Makna Pemberdayaan

Bagi Sragen, festival ini adalah pengukuhan: bahwa sumber daya manusia kreatif, tradisi batik lokal, dan potensi industri rumah tangga bisa menjadi motor pertumbuhan. Bupati Sigit melihat ini sebagai kekuatan besar yang selama ini “tertahan” karena kurang promosi dan semangat kolektif.
Namun ia juga mengingatkan tentang tantangan: regenerasi perajin, inovasi motif agar batik tak dianggap kuno, pemasaran digital agar batik lokal bisa go-national atau bahkan go-global.

Tantangan & Harapan

Meski semangat besar telah ada, jalan ke depan tak tanpa hambatan. Pasar batik sangat kompetitif, merek besar telah berakar. Pergeseran selera generasi muda, perubahan bahan baku dan biaya produksi, serta kehadiran batik cetak massal menjadi tekanan tersendiri.
Tetapi dari Desa Pungsari muncul harapan: bahwa batik bukan hanya warisan, tapi juga masa depan. Jika sebuah desa kecil bisa menegaskan eksistensinya—menghadirkan ribuan pengunjung, menampilkan ratusan motif, dan diramaikan oleh generasi muda—maka potensi itu bisa tumbuh besar.

Penutup

Saat langit Sragen semakin terang dan keramaian mulai bubar, yang tertinggal bukan hanya kain batik yang tersimpan di rumah-rumah, melainkan pula tekad. Tekad bahwa desa yang selama ini “tersembunyi” akan berdiri dengan jati dirinya. Bahwa batik Pungsari—Sragen—akan dikenal bukan sebagai “milik orang lain” atau “label asing”, tetapi sebagai identitas yang dibanggakan.
Festival ini hanyalah awal. Yang menentukan adalah ketika motif batik itu dikenakan oleh anak muda ke sekolah, ketika turis datang ke sentra produksi melihat proses membatik, ketika pasar ekspor menghargai kualitas yang lahir dari desa ini.
Dalam sabuk kreatif Solo Raya, Sragen memulai langkahnya—dan melalui festival ini, langkah tersebut digandeng erat oleh komitmen, budaya dan ekonomi lokal yang ingin tumbuh bersama.