
Di desa kecil yang tenang di wilayah Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen — tepatnya di Desa Jenalas — suara gemuruh aktivitas ladang bawang merah bukan lagi sekadar rutinitas agraris biasa. Melainkan sebuah narasi besar: bagaimana sebuah badan usaha milik desa (BUMDesa) mengambil peran sebagai agen perubahan, sekaligus menegaskan identitas wilayah melalui pertanian modern.
Saat BUMDesa Jenalas menggelar panen bawang merah perdana, bukan hanya ukuran hasil panen yang menjadi sorotan, tetapi juga strategi branding “Gemolong ISO” dan komitmen sertifikasi mutu yang digulirkan untuk menaikkan kelas produk lokal. Desa Jenalas memilih jalan tidak konvensional — bukan hanya menanam bawang, tetapi menjual narasi: bahwa “dari Gemolong, Sragen, kita bangkit sebagai sentra bawang merah berkualitas”.
Pelaksanaan panen tersebut dilakukan di lahan sewa yang strategis, dengan metode produksi yang diarahkan agar memenuhi standar mutu dan kualifikasi untuk sertifikasi ISO. Dengan demikian, tidak lagi hanya slogan, tetapi tindakan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan. BUMDesa Jenalas menyebut bahwa penerapan sistem manajemen mutu menjadi bagian dari langkah mereka untuk memperluas pasar, memperkuat daya tawar, dan menegaskan bahwa pertanian skala desa bisa bersaing — bukan hanya secara kuantitas, tetapi juga kualitas.
Lebih jauh, langkah ini memiliki makna ganda:
- Pertanian sebagai fondasi ekonomi lokal: Bawang merah adalah komoditas tradisional yang sudah lama menjadi andalan Gemolong, namun selama ini sering dianggap margin rendah karena dominasi pasar komoditas besar lain. Dengan penguatan branding dan standar mutu, komoditas ini dibangkitkan — dari sekadar sayur bawang ke produk unggulan desa.
- Desa sebagai pusat inovasi: BUMDesa Jenalas tidak berhenti hanya menanam dan panen. Mereka membuat sistem produksi yang berkelanjutan, dari pemilihan bibit unggul, penggunaan teknologi, hingga pengemasan yang layak pasar. Komitmen ISO menjadi sinyal bahwa desa ini bukan hanya lokus produksi, melainkan pusat bisnis kecil yang profesional.
- Identitas wilayah melalui produk unggulan: Melalui istilah “Gemolong ISO”, ada usaha membentuk identitas kolektif — bahwa Gemolong layak disebut daerah produksi bawang merah berkualitas dan siap market. Branding ini pula menjadi alat pemasaran yang dapat membuka akses ke luar wilayah, bahkan ke pasar nasional.
Namun, tantangan nyata juga tak sedikit. Salah satu sumber menyebut bahwa meski potensi besar ada, BUMDesa menghadapi persoalan modal, akses teknologi, dan mekanisme distribusi yang belum sepenuhnya terjalin secara optimal. Pengelolaan dana desa, penguatan kelembagaan dan pembangunan infrastruktur menjadi fondasi penting agar branding ini tidak hanya jangka pendek, tetapi berkelanjutan.
Di tengah gemuruh panen dan sorak-sorai petani yang mengangkat hasil bumi, BUMDesa Jenalas memanggil seluruh pemangku kepentingan: aparat desa, petani kecil, generasi muda, serta dunia usaha agar bergandeng tangan. “Kalau hanya sedikit yang maju, maka besar pun akan tertinggal,” ujar salah satu pengelola. Branding bukan soal kata di spanduk — tetapi soal keberlanjutan tindakan di lapangan.
Akhirnya, panen bawang merah di Jenalas bukan sekadar kebanggaan lokal — ia menjadi simbol kebangkitan: bahwa sebuah desa di Sragen bisa memilih jalan sendiri menuju kemandirian, bahwa pertanian bisa diubah menjadi bisnis desa yang profesional, dan bahwa identitas wilayah bisa dibangun lewat mutu dan inovasi. Gemolong kini mulai menapakkan diri: dari “penghasil bawang merah biasa” menuju “sentra bawang merah bermutu tinggi dengan standar ISO”. Langkahnya besar. Dan jika dikelola dengan benar — maka bukan hanya Gemolong atau Sragen yang menang; seluruh pertanian kecil di Indonesia bisa mendapat inspirasi.