
Di bawah atap bersejarah Pendopo Sumonegaran, Rumah Dinas Bupati Sragen, Sabtu (1 November 2025) pagi itu tidak hanya menandai rutin peluncuran program sosial. Suasana terasa berbeda—ketika tepuk tangan memenuhi ruangan saat ratusan warga berambut perak jadilah bagian dari barisan baru: peserta angkatan pertama “Senior School ‘Aisyiyah Ar-Rahmah’”, sebuah sekolah lansia yang resmi dibuka di Kabupaten Sragen.
Program ini digagas oleh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sragen dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah. Ketua PDA Sragen, Dwi Astuti, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus.
“Meski tanpa dekorasi mewah, nuansa kemegahan hari ini terasa luar biasa. Kami berterima kasih kepada Bupati Sragen beserta jajaran yang telah memberi dukungan moril dan materiil bagi lahirnya Day Care Lansia ini. Semoga inisiatif ini menjadi ladang kebaikan bagi kita semua.”
Mereka bukan sekadar duduk mendengarkan ceramah — sekolah lansia ini dirancang fleksibel dan dinamis, menyesuaikan karakter dan kebutuhan para peserta senior agar pembelajaran berjalan dengan nyaman dan bermakna.
Makna dan Visi
Bagi pemerintah Sragen, sekolah lansia ini bukan sekadar program sosial; ia adalah penegasan bahwa usia senja bukan penurunan fungsi, melainkan kesempatan untuk tetap aktif, produktif, dan bermakna. Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, mengungkapkan bahwa warga lanjut usia bukan sekadar pensiunan — mereka adalah insan yang masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan.
“Belajar adalah perjalanan seumur hidup. Melalui Senior School, para lansia Sragen menunjukkan bahwa semangat menuntut ilmu dan memperbaiki diri tidak pernah berhenti, bahkan hingga akhir hayat.”
Sekolah ini mengusung modul pelayanan fisik (senam, kesehatan), keagamaan, sosial, keterampilan dan pemberdayaan masyarakat. Tujuannya: memastikan bahwa lansia tidak hanya ‘tersisih’, tetapi menjadi bagian aktif dalam komunitas, tetap berkarya, dan menjaga kualitas hidup.
Tantangan dan Kesempatan
Namun semangat besar ini dibarengi tantangan nyata. Kebanyakan lansia menghadapi keterbatasan fisik, akses teknologi, perubahan sosial dan ekonomi yang cepat. Bagaimana menyesuaikan materi agar sesuai dengan kondisi dan kecepatan belajar mereka? Bagaimana menjaga agar program tersebut tidak hanya seremoni peluncuran tetapi berdampak nyata?
Penting pula bahwa sekolah lansia ini tidak menjadi ruang tunggu pasif — tetapi pusat inisiatif dan partisipasi. Sebagai contoh: para peserta kini dapat memilih program pelatihan keterampilan sederhana (menjahit, bercocok tanam kota, literasi digital) yang kemudian bisa mereka manfaatkan baik untuk hobi maupun tambahan penghasilan.
Implikasinya bagi Sragen
Dengan hadirnya sekolah lansia ini, Sragen tidak hanya memperkuat sistem kesejahteraan sosial — melainkan menegaskan budaya inklusif yang menghargai semua lapisan usia. Ketika lansia diberikan kesempatan belajar dan aktif, maka rantai produktivitas sosial tidak terputus, dan nilai-nilai pengalaman hidup mereka bisa ditransfer ke generasi muda.
Program ini juga mendorong semangat multigenerasi — bahwa pembelajaran dan kontribusi sosial bukan monopoli usia muda. Semua punya bagian.
Penutup
Ketika hari beranjak siang dan peserta mulai mengikuti sesi pertama mereka, terlihat senyum-senyum malu, tangan-tangan berjabat, dan tatapan yang menyiratkan harapan baru. Di depan mereka tidak ada papan tulis besar dan angka statistik — melainkan panggilan untuk terus hidup, belajar, dan berdaya.
Sragen kini membuka satu halaman baru: bahwa ‘usia senja’ bukan akhir, melainkan babak baru. Sekolah lansia ini bukan hanya program — ia adalah pernyataan bahwa setiap manusia layak untuk terus tumbuh, memberi dan berdampak, tanpa pembatas usia.
Dan di antara kursi-kursi yang diisi para lansia itu, ada suara-suara yang berkata lembut tetapi tegas:
“Kami masih ada. Kami masih bisa.”