
Di Desa Pungsari, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, pagi itu terasa penuh harapan. Warna-warna batik menghiasi lapangan desa, tenda-tenda bazar berdiri rapi, dan ratusan warga serta pengunjung berjalan menyusuri barisan kios yang memamerkan puluhan motif batik khas desa tersebut. Bukan sekadar ajang pamer—acara yang digelar itu menjadi momen kebangkitan: bahwa desa yang selama ini dikenal sebagai penghasil batik rumahan besar ingin naik kelas menjadi desa wisata batik dan sentra batik di Solo Raya.
Menurut Kepala Desa Pungsari, Suparmin, fakta mengejutkan bahwa sekitar 50% warga Pungsari menggantungkan hidup dari produksi batik dan turunannya. Meski demikian, batik Pungsari selama ini jarang dikenal sebagai sebuah merk atau identitas sendiri—kain yang diproduksi di Pungsari sering dijual di bawah label merek lain, padahal kualitasnya setara bahkan bisa kalah menjadi pembanding terhadap batik-sentra lainnya seperti Masaran.
Melalui festival besar yang digelar di awal November 2025, masyarakat dan pemangku kebijakan desa menegaskan bahwa “sudah saatnya Pungsari dikenal secara nasional dan internasional” dan bukan hanya sebagai pemasok tanpa identitas. Festival tersebut mencakup karnaval batik yang meriah, edukasi membatik untuk generasi muda, bazar UMKM batik dan kuliner, hingga business matching bagi pelaku industri batik setempat.
Potensi yang Direndam
Produksi batik di Pungsari memang besar: data menyebut ada sekitar 20 pengrajin besar di desa itu yang masing-masing dapat menghasilkan hingga 2.500 potong batik per hari. Ini menunjukkan bahwa di balik kesunyian nama “Pungsari”, terdapat kekuatan industri rumah tangga yang nyata dan produktif. Namun, potensi ini belum bersinar karena pemasaran, branding, dan pengenalan identitas yang lemah.
Transformasi ke Desa Wisata
Dengan demikian, batik Pungsari diposisikan sebagai bagian dari wisata budaya, bukan hanya industri tekstil.
Kehadiran wisata batik akan membuka rangkaian peluang: pengunjung yang datang belajar membatik, membeli langsung dari pengrajin, merasakan proses produksi, hingga menikmati tur desa. Ini tidak hanya meningkatkan pendapatan pengrajin tetapi juga memperkuat kesadaran budaya lokal.
Tantangan dan Momentum
Meski potensi besar, jalan ke depan masih tak mudah. Beberapa tantangan utama meliputi:
- Branding yang belum kuat: Nama Pungsari masih kalah popular dibanding sentra-batik lain meski kualitasnya unggul.
- Regenerasi pengrajin: Pengrajin muda harus dilibatkan agar tradisi membatik tidak pudar.
- Pemasaran dan akses pasar: Perlu strategi agar batik Pungsari masuk ke pasar nasional maupun internasional, bukan hanya lokal.
- Infrastruktur desa wisata: Agar wisata batik bisa berhasil, aksesibilitas, fasilitas dan layanan wisata harus dipenuhi.
Transformasi Pungsari adalah contoh konkret bagaimana desa bisa menjadi motor ekonomi kreatif dan budaya yang punya daya saing. Ketika warga desa mulai melihat batik bukan hanya sebagai pekerjaan rumah tangga tapi sebagai aset budaya dan ekonomi, maka perubahan besar bisa terjadi—kehidupan pengrajin meningkat, industri rumah tangga berkembang, dan tradisi lokal tetap hidup lestari.
Saat matahari mulai merunduk di langit Sragen dan keramaian festival mulai bubar, kisah Pungsari tetap berlanjut — bukan sebagai satu hari acara, tetapi sebuah perjalanan panjang. Perjalanan dari “penghasil batik tanpa nama” menuju “desa batik yang dikenal dan dikunjungi”.
Di desa kecil ini, potongan kain batik yang bermotif khas bukan hanya karya seni — ia adalah harapan, identitas, dan kebanggaan bersama. Pungsari memilih bangkit, memilih bersinar. Dan bila langkah-langkah kecil hari ini diikuti oleh keberlanjutan dan kolaborasi, maka esok hari bukan hanya Pungsari yang menang — tetapi seluruh pengrajin batik desa di pelosok Indonesia.