Tragedi Jalan Miri: Tabrakan Dua Motor di Sragen, Seorang Bidan Gugur di Tempat

Di ruas jalan antar-desa di Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, satu kejadian yang terlihat sekilas seperti kecelakaan biasa ternyata menyimpan luka yang mendalam — kehilangan seorang wanita yang sehari-hari dikenal sebagai bidan penuh dedikasi. Sabtu (12 Oktober 2025) pagi, dua sepeda motor bertabrakan dengan keras, menghentikan detak waktu bagi keluarga dan masyarakat yang kehilangan sosok dipercaya.

Korban, seorang bidan desa dari Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, sedang dalam perjalanan menuju pos pelayanan kehamilan ketika insiden terjadi. Perjalanan yang rutin berubah tragis dalam sekejap. Dua motor yang saling berlawanan arah bertabrakan di jalur penghubung Miri-Pendem, jalan yang semula lengang pagi itu berubah menjadi scene duka.

Saksi mata menceritakan bahwa benturan itu terdengar seperti dentuman logam beradu, kemudian suara jeritan mendesah, kemudian keheningan. Setelah itu, petugas pemadam dan ambulans datang—namun bagi bagian keluarga korban, waktu telah membeku; bidan itu dinyatakan meninggal di lokasi kejadian.

Kehilangan ini bukan hanya statistik kecelakaan lalu lintas — tetapi kehilangan seorang perempuan yang telah lama melayani ibu-ibu hamil, menolong persalinan, merawat bayi baru lahir di desa. Ia bukan hanya petugas kesehatan: ia sahabat, ibu, tetangga yang datang dengan senyum hangat dan tangan sigap.

Kejadian ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana keselamatan bagi pengendara roda dua di jalan-desa yang mungkin tidak dilengkapi marka, penerangan, trotoar atau jalur khusus? Apakah kita sudah cukup memikirkan jalan off-main that tetap sibuk, tetap rawan, tetap dibagi oleh mereka yang membeli pekerjaan dengan risiko tinggi?

Polisi setempat telah mengamankan lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Mereka mengimbau seluruh pengguna kendaraan terutama roda dua untuk selalu memeriksa kondisi kendaraan, patuhi aturan, kenakan helm dan hindari kecepatan saat melihat situasi jalan yang tak ideal. Namun bagi keluarga korban, imbauan itu datang terlambat.

Di rumah duka, suasana hening. Alat kesehatan bidan yang biasa bergerak di bawah rumahnya kini terdiam. Tetangga datang satu per satu memberi pelukan, air mata, dan doa. “Kami kehilangan bukan hanya pekerja kesehatan — tapi sosok yang membawa harapan,” ujar salah seorang warga.

Kini jalan Miri bukan hanya rute pagi hari. Ia menampung cerita — satu cerita tentang keberanian, pelayanan, dan sebuah kehilangan. Di antara rintik hujan yang turun sesaat setelah kejadian, tampak sekelompok petugas melintasi ruas yang sama — kini sepi, namun kenangan tetap ada.

Semoga peristiwa ini menjadi pengingat: bahwa setiap nyawa petugas kesehatan layak dilindungi, bahwa jalan sosial juga harus dilengkapi dengan jalan fisik yang aman. Bahwa saat memberi pelayanan, seseorang pantas pulang dengan selamat — bukan hanya dihitung sebagai angka.