
Pada Kamis pagi yang cerah, di lapangan terbuka Desa Sidodadi, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, tak hanya kibaran bendera-merah-putih yang tampak menyejajarkan deretan kursi acara — tetapi juga hadir sebuah tekad baru: lahirnya program Program Kecamatan Berdaya, yang dicanangkan oleh Ahmad Luthfi, Gubernur Jawa Tengah.
Acara tersebut bukan semata seremoni. Di situ terlihat para camat, bupati, jajaran OPD, komunitas pemuda, organisasi perempuan, hingga perwakilan penyandang disabilitas berdiri bersama — sebagai simbol bahwa program ini akan menyentuh semua lapisan masyarakat. Gubernur menyampaikan bahwa program ini menandai perubahan paradigma: bahwa kecamatan bukan hanya unit administratif, tetapi simpul pemberdayaan.
“Kecamatan Berdaya ini bukan sekadar dicanangkan, tapi sudah operasional. Nafasnya adalah pemberdayaan masyarakat berdasarkan potensi wilayah masing-masing. Tidak ada masyarakat kita yang tidak berdaya,” ujar Ahmad Luthfi.
Mengapa Sragen menjadi lokasi awal?
Sragen dipilih sebagai lokasi pencanangan perdana provinsi karena menampilkan kesiapan dan visi jangka panjangnya — lima kecamatan di Sragen telah ditetapkan sebagai pilot project: Gondang, Kedawung, Karangmalang, Sukodono, dan Masaran. Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, menyambut positif dengan menyatakan bahwa “ini menjadi energi positif bagi Kabupaten Sragen, yang sedang giat melakukan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, untuk mewujudkan Sragen yang berkemajuan, sejahtera, dan merata.”
Esensi dan sasaran Program
Program ini dirancang untuk menyasar kelompok-kelompok yang selama ini rentan: pemuda (generasi Z dan milenial), perempuan, penyandang disabilitas, lansia, hingga pelaku ekonomi kreatif di kecamatan. Di dalamnya juga tersedia layanan seperti Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA), Kartu Zilenial untuk generasi muda, sport centre, serta fasilitas pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas masyarakat. Intinya: kecamatan harus mampu menjadi pusat layanan, pelatihan dan ekonomi yang langsung dirasakan di tingkat masyarakat paling bawah.
Tantangan yang dihadapi
Walau penuh harapan, program ini tidak tanpa tantangan. Rentang kendali antara provinsi hingga desa sangat panjang, distribusi kebijakan sering mengalami hambatan, dan potensi lokal yang berbeda-beda memerlukan pendekatan yang adaptif. Gubernur menegaskan bahwa kecamatan harus menjadi “pratama” dalam pelayanan agar tidak ada warga yang tertinggal.
Di lapangan, ini berarti: camat harus menjadi motor penggerak bukan hanya birokrasi, tetapi perubahan sosial. Pemuda harus bisa dirangkul, perempuan dan disabilitas diberi ruang aktfi, ekonomi kreatif lokal dihidupkan — semuanya dengan pendekatan inklusif dan berkelanjutan.
Makna lebih luas untuk Sragen dan Jateng
Bagi Sragen, pencanangan ini adalah momen kebangkitan: wilayah yang selama ini dikenal dengan potensi pertanian besar kini diundang untuk juga menjadi wilayah inovasi dan pemberdayaan manusia. Bagi Jawa Tengah, inilah langkah strategis untuk menekan kemiskinan dan meningkatkan kualitas SDM secara masif — dari 9-an persen kemiskinan saat ini menuju satu digit yang lebih baik.
Ketika gelombang program mencanangkan konsep besar, yang paling menentukan bukanlah kata-kata di atas panggung — melainkan ketika pelatihan kecil di balai desa berjalan rutin, ketika perempuan disabilitas memperoleh pekerjaan, ketika pemuda kreatif bisa membuka usaha di kecamatan, ketika warga merasa bahwa suara dan potensi mereka di dengar dan diangkat. Itulah saat program ini benar-benar “berdaya”.
Di desa Sidodadi, di bawah bingkai spanduk “Kecamatan Berdaya”, sekelompok warga bersalaman, berjanji bersama. Bukan untuk slogan semata, tetapi untuk masa depan di mana tak ada lagi kecamatan yang hanya menjadi wilayah administratif — tetapi menjadi ruang hidup yang berdaya, inklusif dan makmur.
Program ini, diakui ataupun tidak, adalah awal dari perjalanan panjang. Jalan untuk berdaya sering lebih menantang daripada jalan untuk bersandar. Sragen — dan Jawa Tengah — kini mulai berjalan di jalan yang benar: bukan hanya menyalakan lampu besar pembangunan, tetapi menyalakan nyala individu, keluarga, dan komunitas yang selama ini mungkin terlupakan.