
SRAGEN — Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menggerogoti peternakan sapi di Kabupaten Sragen. Data terkini mencatat ratusan ekor sapi tersebar di 20 kecamatan yang terjangkit, dan hingga kini 64 ekor telah mati akibat infeksi yang menyebar cepat ini.
Menurut petugas veteriner dari Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Sragen, penyebaran virus ini sangat masif — hewan sakit dapat menular ke lainnya melalui kontak langsung, lalu lintas ternak, hingga peralatan kandang yang tak bersih.
“Kami mencatat kasus aktif mencapai ratusan ekor, dan hanya sedikit yang sembuh,” ujar drh. Ana Margaretha. Ia menyebut sebagian sapi yang mati bahkan sudah dipotong pemiliknya untuk mengurangi kerugian.
Kawasan peternakan seperti Kecamatan Sukodono, Mondokan, dan Gesi menjadi titik‐tertinggi kasus. Di Sukodono misalnya, tercatat lebih dari 100 ekor sapi terjangkit.
Terkait situasi ini, Pemkab Sragen segera memperkuat upaya pengendalian: vaksinasi, penyemprotan disinfektan, edukasi bagi peternak dan pengawasan ketat lalu-lintas ternak. Namun, tantangan tetap besar: virus cepat menular dan peternak sering kali kesulitan menerapkan langkah pencegahan.
Wabah ini menjadi panggilan serius bahwa sektor peternakan — yang menjadi sokoguru ekonomi lokal — sangat rentan bila protokol kesehatan hewan diabaikan. Mencegah penularan hari ini berarti menyelamatkan masa depan peternak Sragen.